Menjajaki Pulau Sempu, Malang

Awalnya saya dan teman² mau backpack ke Gunung Krakatau dan sekitarnya. Namun, karena cuaca yang tidak mendukung maka perjalanannya dibatalkan.

Tiba² saja anak kosan Putra Bangsa, Ian, Nashir dan saya punya rencana dadakan sebagai pengganti Krakatau, yaitu ke Pulau Sempu, letaknya di wilayah Kabupaten Malang, Jawa Timur.

Dan mulailah kami menyusun rencana perjalanan, kebetulan si Nashir rumahnya di Malang dan pernah ke pulau itu. Kami mulai mencari tambahan teman, mencari informasi bagaimana bisa sampai ke sana, penyewaan alat camping, dll.

Singkat cerita, kami berlima saja (Ian, Nashir, Mas Adi, Riezan dan saya) sudah dapat tiket KA Malabar (Malang Bandung Raya) yang ekonomi tentunya, itu pun termasuk mahal menurut saya, karena satu rangkaian dengan kereta kelas bisnis dan eksekutif. Kami membeli tiket pulang pergi (Rp 125.000 dan Rp 135.000). Kami berangkat dari depan kampus dengan menggunakan taksi (Rp 40.000) sekitar jam 14.00, sampai di Stasiun Bandung sekitar jam 15.00. Kereta yang akan kami tumpangi berangkat jam 15.30, kami menunggu sejenak di ruang tunggu dan belanja sedikit snack.

Dan berangkatlah kami dari Stasiun Bandung tepat pukul 15.35, kami berada di gerbong ekonomi pertama, duduk berhadapan, dan ternyata terselip seorang mbak² mahasiswa pasca sarjana UPI jurusan Sastra Perancis di sekitar kami. Namanya mbak Wahyu, orang Klaten tapi akan turun di Stasiun Tugu, Yogyakarta, katanya. Dan naasnya selama perjalanan mbak ini mengeluarkan semua jajanan yang dibawanya, dan sudah bisa dipastikan dihabiskan oleh kami selama perjalanan, hahaha.

Perjalanan dari Bandung sampai Malang kami tempuh selama kurang lebih 16 jam, termasuk telat sampai di stasiun tujuan, Stasiun Malang Kota Baru. Selama perjalanan kami habiskan dengan sendau gurau, foto², mengisi TTS, dll. Pokoknya paling ramai dari satu gerbong, untungnya ga ketemu bencong yang biasanya leluasa berkeliaran di kereta.

Sesampainya di Malang, masih pagi, sekitar jam 07.30, dari Stasiun Kota Baru kami langsung naik angkot menuju rumah Nashir, buat istirahat terlebih dahulu. Cuma perlu sekali naik angkot, dan kami sudah disuguhi dengan lingkungan dalam kota Malang yang elok, tertata rapi dan tidak macet. Uniknya lagi di kota ini lingkungan pendidikan seperti sekolah² dan perguruan tinggi dijadikan satu komplek. Sehingga terlihat rapi dan enak dipandang🙂.

Sampai di rumah Nashir kami langsung mandi dan istirahat terlebih dahulu sambil menunggu datangnya 2 motor yang kami sewa buat jalan² di Kota Malang. Cukup murah, kami hanya dikenai biaya Rp 55.000 untuk satu motor per harinya. Kami juga langsung disuguhi lotek (pecel) yang dibelikan ibunya Nashir, pas banget kami kelaparan😀.

Coban Rondo, Jatim Park, Kota Batu

Setelah motor datang, sekitar jam 12.30, kami langsung bersiap untuk jalan². Yang kami tuju pertama adalah Coban Rondo, berupa air terjun yang sangat tinggi. Mungkin istilah coban ini sama dengan curug. Dan kurang beruntungnya  kami disapa hujan selama perjalanan dari Malang, Kota Batu hingga Coban Rondo.

Setelah kami selesai berfoto sejenak, kami langsung kembali ke Kota Batu dengan menerjang hujan deras. Tak berapa lama kami melihat warung bakso, mampirlah kita, Warung Bakso Bromo namanya. Sistemnya ngambil sendiri, jadi ya tiap orang jadi beda² harganya😀. Anehnya, pas kita berhenti, hujan langsung reda, tapi setelah kami selesai makan bakso, hujan turun lagi. Sepertinya memang sedang akrab dengan hujan.

Setelah itu kami langsung menuju Jatim Park 2, ada 2 tempat wisata, Secret Zoo dan Museum Satwa. Karena masih hujan maka kami hanya masuk ke Museum Satwa, Secret Zoo ada yang bagian outdoor. Tiketnya Rp 20.000 per orang. Namanya museum satwa ya isinya berbagai jenis tiruan binatang, hehe.

Setelah puas di Jatim Park, kami kembali ke Kota Malang untuk beristirahat dulu di tempat Nashir dan rencananya mau jalan-jalan di Malang, ke UB atau UMM. Tapi rencana tinggal rencana, sepertinya malam itu sangat bersahabat untuk istirahat. Akhirnya kami hanya menikmati tahu campur sambil nonton bola bareng dan ngecek alat camping buat besoknya ke Pulau Sempu. Untuk alat campingnya sendiri kami menyewa di Kaldera dan harganya pun cukup terjangkau.

Pantai Sendang Biru Hingga Pulau Sempu

Sebelum berangkat, tentu saja kami menyiapkan beberapa bekal. Saya dan mas Adi kebetulan ke Pasar Dinoyo dulu buat beli bahan makanan untuk dimasak di pulau. Setelah semuanya siap, sekitar jam 7 pagi kami langsung berangkat menuju Pantai Sendang Biru, gerbang untuk menyeberang ke Pulau Sempu. Perjalanan dari Kota Malang kami tempuh menggunakan motor dalam waktu kurang lebih 2 jam. Rute perjalanannya mulai dari jalan kota sampai pegunungan, seingat saya, kami melewati 3 bukit untuk sampai di Sendang Biru.

Singkat cerita, kami akhirnya sampai di kawasan Pantai Sendang Biru yang tanpa sungkan memamerkan keelokannya. Rasanya tak sabar ingin segera naik kapal dan larut dalam pemandangan biru yang kami lihat.

Kami langsung mencari tempat penginapan untuk motor kami, mengurus administrasi surat ijin untuk menginap di Pulau Sempu dan menyewa sepatu untuk tracking pulau Rp 10.000 per sepatu.

Setelah mendapatkan ijin, kami langsung menuju kapal yang kami sewa dengan harga Rp 100.000 untuk antar jemput pulau dan seorang bapak guide yang hanya mengantar saja Rp 100.000 juga. Perjalanan dengan kapak ini cuma sebentar, sekitar 10 menit, seperti menyeberang sungai besar.

Dan akhirnya kami mendarat di Teluk Semut Kecil, gerbang untuk masuk ke Pulau Sempu. Dari sinilah perjalanan sebenarnya baru dimulai. Kami mulai tracking dengan medan yang cukup berat, karena sehabis hujan, jalannya berlumpur dan tak terlihat seperti jalan manusia. Kami berjalan menyusuri akar-akar pepohonan dan lereng bukit. Tak jarang kami jatuh karena licinnya track. Perjalanan seperti ini kami tempuh selama hampir 3 jam dengan membawa berbagai barang bawaan, seperti tenda, alat masak, pakaian, bahan makanan, dll. Tujuan akhir adalah Segara Anakan yang berada di ujung tenggara pulau. Selama perjalanan kami bertemu beberapa rombongan yang sudah dalam perjalanan pulang mereka, salah satunya rombongan mahasiswa UI😀.

Setelah melalui perjalanan yang melelahkan tadi akhirnya kami tiba di Segara Anakan, dan rasa letih kami terbayar seketika dengan melihat pemandangan di depan kami. Biru dan pasir putih yang terhampar:mrgreen:. Tak berlama-lama kami langsung mendirikan tenda dan menyiapkan peralatan masak untuk makan siang.

Setelah itu kegiatan di pulau hanya kami isi dengan berenang di Segara Anakan, melihat tebing yang berhadapan langsung dengan Samudera Hindia dan berfoto-foto tentunya.

Kami menginap selama semalam di tenda, tidur berlima dengan kekhawatiran jika airnya pasang, hehe. Paginya kami segera beres², masak buat sarapan dan membersihkan lingkungan sekitar tenda kami. Sekitar jam 8 pagi kami meninggalkan Segara Anakan untuk kembali menuju Teluk Semut Kecil, menunggu jemputan dari kapal yang mengantarkan kami. Ajaibnya, kami hanya menempuh perjalanan selama kurang lebih 1,5 jam. Sangat berbeda ketika kami berangkat. Kami pikir kami menempuh jalan yang salah, tapi ternyata tidak, daebak!😆. Soalnya kami khawatir juga, karena baru seminggu yang lalu ada berita orang hilang di pulau ini.

Tak berapa lama kami menunggu sudah terdengar suara mesin kapal jemputan kami, rasa girang tak dapat kami sembunyikan. Seketika langsung mengangkat barang ke atas kapal dan kembali ke Pantai Sendang Biru. Sesampainya di pantai kami langsung mengurus pengembalian sepatu dan mengambil motor. Sambil istirahat sejenak kami menikmati es cincau sambil memandang birunya kawasan Pantai Sendang Biru, subhanallah!

Belum selesai begitu saja, setelah itu kami masih harus menempuh perjalanan 2 jam kembali ke Kota Malang untuk mengejar kereta Malabar yang dijadwalkan berangkat jam 15.30. Dan alhamdulillah kami tidak ketinggalan kereta, kami tepat waktu sampai di Malang. Setelah berpamitan dan dibawakan oleh-oleh dari keluarga Nashir kami langsung berangkat ke stasiun Kota Baru Malang. Dan dimulailah perjalanan panjang dengan menggunakan kereta menuju Bandung.

Entah kenapa perjalanan ke Bandung lebih singkat, hanya menempuh waktu 14 jam. Kami turun di stasiun Kiara Condong yang lokasinya paling dekat. Setelah itu, siang harinya kami langsung berangkat ke kantor untuk bekerja kembali, hehe.

FYI, tiap orang dari kami menghabiskan kurang lebih Rp 500.000, sudah cukup murah, mengingat mahalnya terletak di tiket kereta. Mungkin sekian dulu sedikit cerita dari Kota Malang dan sekitarnya. Semoga Bermanfaat, dan nantikan cerita untuk trip berikutnya😉.

24 thoughts on “Menjajaki Pulau Sempu, Malang

  1. subhanallah…masih tettteeep saamaa kayak 7thn yang lalu, coban rondonya juga sama kayak waktu aku masih SMP kayaknya terakhir ke sana…
    ga mengecewakan kaan Malaang..=)

  2. Sempu memang keren, apalagi saat sepi.. Oh iya sebenarnya ada alternatif ga harus pake malabar bt ke malang.. tp kita harus ngeteng pake kahuripan atau pasundan.. Rutenya Bdg-kediri 38rb, lanjut kediri-malang 5500.. atau Bdg-Surabaya, lanjut Surabaya-malang, ongkosny sama.. nuhun. salam kenal.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s