Dieng Plateau, Bukit Di Atas Awan

Akhir bulan Juni yang lalu, bertepatan dengan sudah terlanjur direncanakannya trip ke Dataran Tinggi Dieng atau bahasa bekennya Dieng Plateau, kami sukses menjajaki Bukit Sikunir dan mendirikan tenda di sana.

Siapa Kami?

Awalnya, sepengetahuan saya perjalanan ini hanya akan diikuti oleh anak-anak kampus saya, ternyata tidak, dari kampus saya ada saya, Whe, dan lima orang junior lainnya beserta kembarannya (gile, udah senior cuy), ya diantara mereka ada yang kembar cowok cewek, yang selanjutnya kami namakan kembar 1 dan kembar 2😆. Dan ternyata sesampainya di Terminal Cicaheum kami bergabung dengan Komunitas Backpacker Regional Bandung (BPC Bandung), jadi we kami ber-30 naik bus yang sama, Sinar Jaya, udah kayak nyarter aja, haha. Uniknya, komunitas ini macem-macem anggotanya, dari bocah sampai opa, udah saya ceritakan di postingan sebelumnya:mrgreen:.

Menuju Kota Wonosobo

Perjalanan diawali menggunakan taksi dari salah satu kampus terkemuka di Dayeuhkolot, sempat merasa akan tertinggal bus, kami berangkat dengan tergesa-gesa, karena di jadwalnya bus akan berangkat antara jam 19.00-19.30, kami baru berangkat jam 17.30, dan tau sendiri lah Kota Bandung akan macet ketika sore hari, apalagi weekend, tapi alhamdulillah masih terkejar dan kami langsung naik bus. Belum selesai sampai disitu, masih ada ribut masalah tiket, haha, tapi terselesaikan juga. Kami langsung meluncur menuju Kota Wonosobo lewat jalur selatan, perjalanan ditempuh kurang lebih selama 8 jam.

Plasa Wonosobo

Kami turun di Plasa Wonosobo sekitar sebelum subuh, disambut dengan dinginnya kota Mie Ongklok ini. Segera kami mencari masjid terdekat untuk melakukan shalat. Setelah itu, barulah kami jalan-jalan sebentar di sekitar jantung Kota Wonosobo itu sambil menikmati teh hangat dan mendhoan (uye, akhirnya nemu lagi, makanan favorit ini :mrgreen:). Tak lupa juga saya dan Whe mencari sarapan nasi dengan meninggalkan yang lain, maklum belum terlalu kenal soalnya, hehe. Kami menunggu bus dan mobil carteran untuk menuju Dieng hingga jam 7. Momen ini kami manfaatkan untuk saling berkenalan satu sama lain😀.

Menuju Dieng Plateau

Dari Plasa Wonosobo, menggunakan mini bus dan dua mobil carteran kami menuju Dataran Tinggi Dieng, tetapi kami singgah dulu di kawasan wisata Telaga Menjer, sebuah telaga yang terkenal dengan pencerminan gunungnya, ya jika kamu berkunjung di telaga ini dan beruntung bisa dapet foto telaga dan gunung beserta pencerminannya.

Telaga ini juga dimanfaatkan sebagai PLTA, objek wisata serta sumber kehidupan bagi warga sekitar. Terdapat sewa perahu untuk berkeliling telaga, dari sini bisa dilihat pemandangan Gunung Sindoro dan bukit-bukit lainnya.

Perjalanan kami lanjutkan, sekitar setengah jam kemudian kami tiba di kawasan Telaga Warna, tetapi kami tidak langsung masuk, kami malah tergoda dengan tulisan Mie Ongklok dan langsung memesannya. Namun, hanya beberapa dari kami yang menikmatinya, karena kebetulan sudah habis, akhirnya saya putuskan untuk makan dengan burung puyuh (setelah sekian lama).

Menuju Puncak Sikunir

Setelah makan, kami tidak masuk ke kawasan Telaga Warna, kami langsung menuju bukit Sikunir, karena khawatir kehabisan tempat setelah mendengar kabar bahwa akan ada banyak yang camping di sana. Kami diantarkan hingga Telaga Cebong, telaga yang ada di kaki bukit Sikunir. Selanjutnya perjalanan ditempuh dengan berjalan kaki. Perjalanan ini memakan waktu sekitar 30 menit saja, termasuk pendakian yang cukup ringan mengingat saya pernah mendaki Gunung Slamet yang memakan waktu sekitar 8 jam:mrgreen:.

Sampai di puncak, kami merupakan rombongan pertama yang sampai dan tanpa basa basi langsung mencari tempat untuk mendirikan tenda. Setelah beberapa saat sekitar 7 tenda sudah siap dihuni. Di puncak ini kita sudah bisa melihat beberapa puncak gunung-gunung tinggi di pulau Jawa, seperti gunung Sindoro, Sumbing, Merapi, Merbabu. Keren sekali pemandangannya, setelah sekian lama hanya melihat monitor dan berkutat dengan makhluk bernama komputer, hehe.

Dari sini acara bebas dimulai, ada yang melihat-lihat sekitar, foto, dll, hingga main uno (ini kebetulan saya yang bawa kartunya). Dan setelah puas bermain, kami memutuskan untuk melihat sunset sambil menikmati teh hangat bersama di puncak bukit yang mengarah ke Telaga Cebong, seperti biasa saya membawa persediaan teh dan gula😀.

Dinginnya Malam di Puncak Sikunir

Menyambut malam hari, kami bersiap untuk sholat maghrib dan isya’, kemudian menyiapkan menu makan malam, seperti biasa menyiapkan kompor dan nasting untuk memasak. Menu malam itu adalah nasi rempah, sosis dan abon. Setelah makan, menyiapkan api unggun kami sibuk dengan aktivitas masing-masing karena suhu udara yang semakin kurang bersahabat, dikabarkan bahwa suhu di malam hari di puncak Sikunir bisa berada di sekitar 10 derajat celcius atau yang paling parah hingga -5 derajat celcius dimana embun bisa jadi es, wew!

Satu tips bagi kalian yang akan menghadapi cuaca dingin seperti ini adalah jangan terburu-buru untuk mengenakan jaket dan atau sarung tangan dan simpanlah jaket di dalam tas dengan rapat, karena bisa berembun dan sama saja dinginnya jika dikenakan nanti. Malam itu saya menggunakan 2 lapis kaos, 2 jaket, 1 sweater, sarung tangan, kaos kaki, sleeping bag dan masih berasa dinginnya terutama sekitar jam 2-3 malam. Di saat yang lain hunting foto di malam hari, teman satu tenda saya tidak ada yang keluar demi menghindari dingin, haha. Malam itu saya satu tenda dengan Whe dan mas-mas Guru TK lulusan UPI yang mungkin sebentar lagi mau ganti kerjaan dan satu mas-mas yang tiba-tiba nebeng yang kerjaannya juga sebagai Guru SD, wkwk, unik ya profesinya, ya, unik bagi kalangan programmer seperti saya yang tiap hari berinteraksi tidak dengan manusia😆. Lucunya lagi mereka ke Dieng dengan pakaian seadanya, tidak menyiapkan baju hangat lebih dan tidak menyiapkan hidup di tenda, rencananya mereka ingin homestay, tapi rombongan kami lebih memilih menggunakan tenda.

Golden Sunrise Sikunir

Akhirnya momen yang kami tunggu-tunggu sudah tiba, yaitu menyambut matahari terbit. Setelah subuh, kami bergegas untuk melihat keindahan alam ini dan hasilnya, subhanallah, selama beberapa jam kami dibuat terpana melihatnya. Tak sungkan kami untuk berfoto dan mengabadikan momen ini. Dan ternyata pagi ini jumlah orang yang ada jauh lebih banyak dibandingkan saat malam hari, yang ada dalam benak kami adalah dari mana asalnya orang-orang ini😆. Ternyata ada yang mendirikan tenda di sisi lain bukit dan ada yang mendaki mulai dari pagi buta, mantap!

Setelah puas dan lewat momen itu, kami menyiapkan sarapan, menu kali ini adalah mie dan cream soup, enak! (yaiyalah, di gunung).

Telaga Cebong

Setelah sarapan, kami menghabiskan waktu untuk membereskan tenda dan jalan-jalan sejenak, menikmati saat-saat akhir di bukit ini. Setelah semuanya beres, kami berfoto beramai-ramai dan memulai turun gunung. Setelah sampai di bawah, kami beristirahat di pinggir Telaga Cebong untuk menunggu kendaraan carteran menjemput, segar rasanya, tetapi kami hanya sekedar mencuci kaki, karena suhu udara masih dingin, walaupun matahari sudah bersinar terang.

Dieng Culture Festival

Perjalanan selanjutnya yaitu menuju area Dieng Culture Festival, kami berhenti di kawasan Candi Gatotkaca, kemudian berjalan menuju kawasan Candi Arjuna yang digunakan untuk upacara adat. Upacara adat ini merupakan upacara pemotongan rambut gimbal seorang anak kecil, dimana harus dituruti terlebih dahulu keinginannya. Yang paling lucu adalah beberapa anak meminta sepeda, kambing, emas dan barang yang agak mahal lain, tetapi ada satu anak yang hanya meminta Milkuat dan Milkita, hahaha, kami serentak tertawa bersama-sama.

Kami mengikuti prosesi hanya sebentar. Kami berkeliling untuk melihat-lihat dan membeli Es Dawet Duren, karena sudah lama tidak makan durian. Dan satu lagi yang unik adalah ada yang namanya Dawet Lele, dawet yang di dalamnya ada daging lelenya, otomatis saya tidak mau mencobanya, tetapi ada beberapa teman yang berani untuk mencobanya, bisa anda bayangkan bagaimana rasanya? hahaha.

Telaga Warna dan Mie Ongklok

Selesai dari area DCF 2012, kami kembali ke kawasan objek wisata Telaga Warna, masuk hingga Telaga Cermin, jalan-ja;an sebentar kemudian keluar lagi. Setelah itu, kami memutuskan untuk kembali ke Wonosobo, sebenarnya masih banyak objek wisata yang bisa dikunjungi, tetapi berkaitan dengan waktu yang tidak mencukupi dan kami sudah memesan tiket bus untuk kembali ke Bandung yang berangkat sore harinya.

Sebelum ke Terminal Mendolo, kami singgah dahulu di kedai Mie Ongklok untuk mengobati rasa lapar. Setelah beres dengan kuliner, bergegaslah kami ke Terminal Mendolo, dan sesampainya di sana ternyata bus yang akan kami naiki terkena macet dan telat, tapi alhamdulillah malah jadi ga ketinggalan. Selama menanti bus kami bahkan sempat main uno satu putaran panjang, hahaha, seru!

Setelah bus sudah siap barulah kami kembali ke Bandung, kami memutuskan untuk turun di Cibiru dan menyewa angkot hingga kampus dan saya sampai di kosan tepat ketika adzan subuh🙂.

Rincian Biaya

  • Bus Bandung-Wonosobo PP : Rp 60.000 x 2 = Rp 120.000
  • Carter Mikrobus dan Mobil + tiket objek wisata :  Rp 67.000
  • Belanja bahan makanan : Rp 30.000
  • Lain-lain (makan, jajan, dll) : Rp 50.000
  • Total : Rp 267.000

Mungkin itu dulu sedikit cerita dari Dieng, biaya di atas hanya perkiraan di bagian lain-lain, bisa jadi lebih, udah lupa soalnya, hehe. Semoga bisa bermanfaat dan sampai jumpa di perjalanan berikutnya:mrgreen:.

5 thoughts on “Dieng Plateau, Bukit Di Atas Awan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s