Sedikit Cerita dari Kota Surakarta

Setelah sudah setengah hari lebih di kota Jogja, akhirnya saya harus meninggalkannya, hayah. Tujuan berikutnya adalah kota Surakarta yang dikenal juga dengan sebutan kota Solo. Solo ini juga bisa jadi kota tujuan wisata yang cukup menarik, karena kota yang memiliki beberapa kesamaan dan budaya dengan kota Yogyakarta. Contohnya saja, terdapat Kraton Mangkunegaran dan salah satu produsen batik di Indonesia. Selain itu kuliner di Solo juga sangat menarik, tradisional dan alami, mungkin banyak yang belum diketahui publik, nah, sebagian akan saya ceritakan di sini.

Menuju Kartasura

Setelah berpisah dengan mbak Tia dan Anggi, dari Stasiun Tugu Yogyakarta saya dan Whe naik kereta Prameks terakhir tujuan Solo Balapan. Untuk menuju Solo, dari Jogja kita bisa menggunakan beberapa pilihan transportasi, salah satunya ya kereta Prameks ini, kita harus membayar tiket Rp 9.000, kereta terakhirnya berangkat jam 19.00.

Kami turun di Stasiun Purwosari, stasiun terdekat dari Kartasura. Ya, saya mau menginap di rumah Whe di daereh Kartasura. Berbeda lho dengan Surakarta, Kartasura ini salah satu kecamatan yang masuk wilayah Kabupaten Sukoharjo. Dari stasiun Purwosari kami menggunakan angkot menuju Kartasura.

Setelah makan malam dengan Ayam Cah Jamur di warung pinggir jalan, kami langsung balik ke rumah dan istirahat, maklum sudah jalan kaki seharian di Jogja. Paginya, kami langsung berencana jalan-jalan di Solo, sempat ngajak Kak Yogiek dan Kak Kusuma, dan akhirnya disepakati untuk ketemu di siang hari. 

Tempat pertama yang kami kunjungi adalah Solo Paragon, mall baru di kota ini, ya kalau mall pastilah kita sudah tau apa isinya, cuma whe aja masih penasaran karena belum pernah ke sana.

Selat dan Srabi Notosuman

Setelah itu kita berniat untuk mencari tempat makan yang cukup terkenal di Solo, namanya Selat Mbak Lies. Namun, berhubung whe lupa tempatnya maka di lihat di petanya foursquare dulu (haha, sok nggadget banget ini nyarinya). Bukannya ketemu, tapi malah tambah bingung, hahaha. Kami akhirnya malah belok terlebih dahulu ke tempat Srabi Notosuman. Di tempat srabi kami masing-masing membeli satu kotak srabi campur, harganya Rp 19.000.

Setelah beres membeli srabi, kami mencari lagi warung selat tadi dan akhirnya ketemu, memang lokasinya ada di gang sempit, tapi rame banget pembelinya. Saya memesan Selat Galantin Kuah Segar dan Es Degan Gula Jawa. Harga selat ini sekitar Rp 7.000 – Rp 9.500 per porsi, tergantung dari pesanannya😉.

Es Gempol Pleret

Setelah makan selat, kami menjelajah Solo, dari kawasan Ngarsopuro,  Kraton Mangkunegaran, Pasar Klewer hingga berhenti di daerah Stadion Manahan untuk menunggu rombongan kak Yogiek sambil jajan Es Gempol Pleret. Harganya Rp 4.000.

Taman Balekambang

Setelah bertemu dengan rombongan, kami langsung menuju Taman Balekambang, salah satu tempat yang katanya dibangun pada tahun 1921 oleh KGPAA Mangkunegara VII untuk putri-putri tercinta, yaitu GRAy Partini Husein Djayaningrat dan GRAy Partinah Sukanta, yang figur keduanya bisa dilihat pada patung yang ada di dalam taman Balekambang. Maka dari itu area Taman Balekambang ini pun dulu dibagi menjadi dua, yaitu Partini Tuin dan Partinah Bosch. Partini Tuin atau Taman Air Partini terdapat kolam resapan yang luas dan juga berfungsi untuk penampungan air. Kolam ini juga bisa digunakan untuk wisata air dengan menggunakan perahu.

Di sini disediakan mainan tradisional jawa, seperti congklak, egrang, dll. Seperangkat gamelan yang bebas dimainkan siapa saja. Satu yang menarik perhatian adalah adanya figur Brotoseno yang besar, Brotoseno merupakan nama kecil dari Werkudoro, anggota dari Pandawa.

Selain itu juga terdapat taman reptil di area Taman Balekambang ini.

Mie Ayam Pocong

Dari Taman Balekambang, rencananya kami ingin merasakan susu segar Shi Jack, tetapi belum buka. Berhubung sudah sore dan rombongan yang lain ingin mencari oleh-oleh dahulu maka kita putuskan untuk berpisah. Saya dan whe balik ke Kartasura, karena saya juga akan kembali ke Purworejo, tetapi kita mampir dulu di Mie Ayam Pocong Tugu Lilin, mie ayam yang katanya punya kisah mistis dan laris banget. Di sini saya memesan Mie Ayam, Es Teh dan semangkuk Ceker:mrgreen:. Untuk harganya masih harga normal mie ayam😉.

Untuk kisah yang lebih lengkap mie ayam pocong mungkin bisa dibaca di sini.

Sebenarnya masih banyak lagi jajanan, makanan atau tempat lain di Solo yang ingin dicoba dan dikunjungi, tetapi waktu tidak mengijinkan. Setelah mengunjung kota ini, dalam hati saya pun berkata “Seandainya suatu saat nanti diberi kesempatan untuk melanjutkan hidup di Solo, pastilah saya ambil kesempatan itu🙂” .

6 thoughts on “Sedikit Cerita dari Kota Surakarta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s