Alhamdulillah, It Works!!!

Alhamdulillah, hanya itu yang ada di benakku. Senin, 27 September 2010.

Akhirnya saya bisa melewati tahap sidang Proyek Akhir saya dengan lancar, dengan penguji Ibu Retno Novi Dayawati dan Ibu Niken Dwi Cahyani, setelah penantian dan perjuangan pra lebaran & pasca lebaran. Dan mendapatkan nilai yang bisa dibilang memuaskan dan revisi yang tidak terlalu banyak :).

Selamat Arif, anda lulus dengan nilai A, dengan syarat harus menyelesaikan beberapa revisi, … kata pembimbingku Ibu Hetti Hidayati.

Ternyata seperti ini rasanya setelah sidang, saya sempat berpikir saya tidak mampu menyelesaikan program dengan baik dengan menerapkan konsep dan analisis yang sudah saya tulis di buku :mrgreen:.

Revalina, revalina, revalina, yah itulah yang selalu ada di benakku selama bulan Ramadhan dan Syawal. Setelah menemui beberapa masalah, termasuk request untuk penundaan sidang, karena programnya masih ada yang error, terima kasih sekali ibu :).

Revalina (RSS Based, Collaborative Authoring and Personal Learning Environments), merupakan nama final project saya untuk memenuhi syarat kelulusan dari program studi D3 Informatika IT Telkom, dengan judul asli Implementasi E-Learning dengan Pendekatan Personal Learning Environments pada Pembelajaran Framework PHP CodeIgniter”.

Di revalina ini, saya membuat mini lms yang menerapkan pendekatan PLE, bukan lms yang menerapkan pendekatan VLE seperti Moodle, Dokeos, Sakai, dll.

Continue reading

Advertisements

Principles for future VLE/LMS development

Beberapa prinsip untuk mengembangkan LMS, menurut Sclater :

Prinsip 1 : VLE harus memfasilitasi pengembangan konten kolaboratif secara online. Sistem yang ada sekarang perlu ditingkatkan.

Prinsip 2 : VLE harus mengakui kebutuhan bidang studi tertentu dan kebutuhan bisnis. Bidang-bidang seperti matematika, bahasa dan melanjutkan kursus pengembangan profesional memiliki persyaratan unik untuk ditampilkan, teknologi dan format yang harus dipenuhi.

Prinsip 3 : VLE harus dapat memberikan akses ke berbagai pengguna. Keterlibatan atasan secara khusus akan membutuhkan peningkatan akses dari luar universitas dan ada berbagai jenis pengguna yang memerlukan akses.

Prinsip 4 : Kita perlu terus-menerus menilai apakah kita memiliki keseimbangan yang tepat antara “pengendalian” dan “kebebasan” dalam penggunaan VLE oleh staf dan mahasiswa. Sebuah kompromi perlu dicapai antara memungkinkan pengguna untuk memiliki cukup tingkat akses ke fasilitas VLE dan mempertahankan kualitas isi pembelajaran kami, kegiatan dan dukungan.

Prinsip 5 : Integrasi external tools akan terus dievaluasi. Sementara Universitas menganggap rumah yang di-VLE untuk tetap penting ada fasilitas seperti penyediaan email yang mungkin lebih baik outsourcing.

Prinsip 6 : VLE harus terlihat di berbagai channels. Semua sistem yang dihadapi mahasiswa harus dapat diakses dan mudah untuk digunakan pada perangkat mobile dan juga pada PC desktop dan laptop.

Prinsip 7 : Semua konten teks yang harus disimpan dalam format XML jika memungkinkan. Ini akan membantu cukup dengan repurposing untuk pengiriman pada platform lain misalnya kertas, e-buku dan perangkat mobile.

Prinsip 8 : Dokumentasi harus cukup baik tim tentu tidak merasa perlu untuk menulis catatan yang mendukung mereka sendiri di sekitar penggunaan fasilitas VLE. Suatu usulan Panduan Komputasi direvisi akan mengatasi masalah ini yang mengakibatkan duplikasi usaha dan produksi sumber daya kertas yang keluar dari tanggal dengan cepat.